Kamis, 01 Desember 2011

LAPORAN
PEMBIAKAN VEGETATIF








Disusun Oleh :
SAPTAJI


       






JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS AGRIBISNIS DAN TEKNOLOGI PANGAN
UNIVERSITAS DJUANDA
BOGOR
2011

I.  PENDAHULUAN

1.1.            Latar  Belakang
Pembiakan secara tak kawin atau aseksual merupakan dasar pembiakan vegetatif dimana terlihat kesanggupan tanaman membentuk kembali jaringan – jaringan dan bagian – bagian lain. Pada sebagian tanaman pembiakan vegetatif merupakan proses alamiah yang sempurna atau merupakan suatu proses buatan manusia.
Perbanyakan secara vegetatif adalah cara perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk daun, umbi dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, daun, sekaligus.
Pembanyakan secara vegetatif ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: stek atau cutting, okulasi, penyambungan, dan cangkok. Perbanyakan stek tidak memerlukan teknis yang rumit yang dimana dalam perbanyaka tanaman stek ini mempunyai keunggulan yaitu dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah yang banyak walaupun bahan tanaman yang tersedia terbatas dan dapat menghasilkan tanaman yang sifatnya sama dengan induknya.
Stek merupakan suatu perlakuan pemisahan, pemotongaan beberapa bagian dari tanaman seperti; akar, batang, daun dan tunas dengan tujuan bagian – bagian tanaman tersebut menghasilkan tanaman baru. Perbanyakan dengan stek umumnya dilakukan pada tanaman dikotil, pada monokotil masih jarang, namun pada beberapa tanaman seperti Asparagus dalam kondisi terkontrol dapat dilakukan.
Pemberikan zat pengatur tumbuh (ZPT) pada bahan stek dapat mendorong pertumbuhan akar. Dalam pemberian ZPT yang dipergunakan untuk meransang pembentukan akar, perlu memperhatikan konsentrasi yang digunakan. Cara pemberian ZPT pada stek juga sangat beragam, pada bagian ujung cabang, kita dapat merendam bahan stek dalam larutan 2000 ppm Asam Indol Butirat (IBA) selama 24 jam mampu meningkatkan tumbuhnya stek, memacu pertumbuhan akar dan tunas tajuk. Selain direndam ada juga yang dicelupkan selama beberapa detik umumnya konsentrasi zat pengatur tumbuh yang dipergunakan lebih tinggi daripada cara rendam.
Pada kondisi tertentu zat pengatur tumbuh buatan sangat sulit didapat, sebagai penggantinya kita dapat menggunakan beberapa hormon tumbuh yang terdapat di dalam kencing sapi. Dari hasil percobaan yang dilakukan oleh Suparman, Sunaryo dan Sumarko (1990) didapat bahwa sapi dalam 5 detik memiliki daya ransang akar yang sama dengan 2000 ppm IBA pada stek sulur panjat lada. Tetapi bila dilakukan pada bahan stek yang berasal dari cabang buah, perlakuan tersebut belum cukup untuk meransang pertumbuhan stek yang baik.

1. 2      Tujuan
Untuk melihat perkembangan dan pertumbuhan tanaman dengan menggunakan metode stek yang dilakukan dengan perlakuan menggunakan Rhotoon F (Zat Perangsang Tumbu) dan tidak.
  
BAB II
TINJAUAN  PUSTAKA
       
 2.1  Perbanyakan Tanaman dengan Stek
   Sebagai salah satu perbanyakan tanaman secara stek menjadi alternatif yang banyak dipilih orang karena caranya sederhana tidak memerlukan teknik yang rumit sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja. Wudianto (1988) mendefinisikan stek sebagai suatu perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian tanaman (akar, batang, daun dan tunas) dengan tujuan agar bagian-bagian itu membentuk akar. Dengan dasar itu maka muncullah istilah stek akar, stek batang, stek daun, dan sebagainya. Definisi lain dari stek adalah salah satu cara pembiakan tanaman tanpa melalui proses penyerbukan (generatif) tetapi dengan jalan pemotongan batang, cabang, akar muda, pucuk, atau daun dan menumbuhkannya dalam media padat atau cair sebelum dilakukan penyapihan (Anonim, 1995).
Tanaman yang dihasilkan dari stek biasanya mempunyai sifat persamaan dalam umur, ukuran tinggi, ketahanan terhadap penyakit dan sifat-sifat lainnya. Selain itu kita juga memperoleh tanaman yang sempurna yaitu tanaman yang mempunyai akar, batang, dan daun yang relatif singkat (Wudianto, 1988). Stek batang adalah tipe stek yang paling umum dipakai dalam bidang kehutanan. Stek batang didefinisikan sebagai pembiakkan tanaman dengan menggunakan bagian batang yang dipisahkan dari induknya, sehingga menghasilkan tanaman yang sempurna.
 Menurut Yasman dan Smits (1988), stek batang ini sebaiknya diambil dari bagian tanaman ortotrof sehingga diharapkan dapat membentuk suatu batang yang pokok dan lurus keatas. Keuntungan dari stek batang adalah pembiakkan ini lebih efisien jika dibandingkan dengan cara lain karena cepat tumbuh dan penyediaan bibit dapat dilakukan dalam jumlah yang besar. Sedangkan kesulitan yang dihadapi adalah selang waktu penyimpanan relatif pendek antara pengambilan dan penanaman (Wudianto, 1988).
Dengan demikian sumber bahan vegetatif haruslah dicari atau dipilih pohon-pohon unggul dengan produksi tinggi, tahan hama dan penyakitserta mudah penanamannya, sedangkan yang berkaitan dengan persiapan bahan stek, Yasman dan Smits (1988) menerangkan pemotongan bagian pangkal stek sebaiknya 1 cm dibawah buku (node) karena sifat anatomis dan penimbunan karbohidrat yang banyak pada buku tersebut adalah lebih baik untuk perakaranstek.

2.2 Stek Daun
Bahan awal perbanyakan yang dapat digunakan pada stek daun dapat  berupa lembaran daun atau lembaran daun beserta petiol. Bahan awal pada stek  daun tidak akan menjadi bagian dari tanaman baru. Penggunaan bahan yang  mengandung kimera periklinal dihindari agar tanaman-tanaman baru yang  dihasilkan bersifat true to type (Hartmann et al, 1997).
 Akar dan tunas baru pada stek daun berasal dari jaringan meristem primer atau meristem sekunder. Pada tanaman Bryophyllum, akar dan tunas baru berasal dari meristem primer pada kumpulan sel-sel tepi daun dewasa, tetapi pada  tanaman Begonia rex, Saint paulia (Avrican violet), Sansevieria, Crassula dan Lily, akar dan tunas baru berkembang dari meristem sekunder dari hasil pelukaan. Pada beberapa species seperti Peperomia, akar dan tunas baru muncul dari  jaringan kalus yang terbentuk dari aktivitas meristem sekunder karena pelukaan.  Masalah pada stek daun secara umum adalah pembentukan tunas-tunas adventif, bukan akar adventif. Pembentukan akar adventif pada daun lebih mudah dibandingkan pembentukan tunas adventif (Hartmann, et al, 1997). 
Secara teknis stek daun dilakukan dengan cara memotong daun dengan panjang 7,5 – 10 cm (Sansevieria) atau memotong daun beserta petiolnya kemudian ditanam pada media (Hartmann et al, 1997). Untuk Begonia dan Violces, perlakuan kimia yang umum dilakukan adalah penyemprotan dengan IBA 100 ppm.

2.3 Stek Batang
            Bahan awal perbanyakan berupa batang tanaman. Stek batang dikelompokkan menjadi empat macam berdasarkan jenis batang tanaman, yakni: berkayu keras, semi berkayu, lunak, dan herbaceous. Bahan tanaman yang biasa diperbanyak dengan stek batang berkayu keras antara lain: apel, pear, cemara, dan lain-lain, dengan perlakuan kimia IBA atau NAA 2500 – 5000 ppm. Panjang stek berkisar antara 10 – 76 cm atau dua buku (nodes). Stek batang semi berkayu, contohnya terdapat pada tanaman Citrus sp. dengan perlakuan kimia yang sudah umum yaitu IBA dan NAA 1000 – 3000 ppm dan panjang stek 7,5 – 15 cm. Pada stek batang semi berkayu ini, daun-daun seharusnya dibuang untuk mengendalikan transpirasi. Disamping itu, pelukaan sebelumnya mungkin dapat membantu pengakaran.
 Untuk stek batang berkayu lunak, contohnya terdapat pada tanaman Magnolia dengan perlakuan IBA atau NAA 500 – 1250 ppm dan panjang stek 7,5 – 12,5 cm. Pada stek batang berkayu lunak ini umumnya akar relatif cepat keluar (2 – 5 minggu). Stek batang yang tergolong herbaceus, dilakukan pada tanaman Dieffenbachia, Chrisanthemum, dan Ipomoea batatas. Pada dasarnya perlakuan auksin tidak pdiperlukan pada stek batang herbaceous ini, tetapi kadang diberikan IBA atau NAA 500 –1250 ppm dan panjang stek yang biasa digunakan adalah 7,5 – 12,5 cm (Hartmann et al, 1997).
2.4 Aspek  Anatomi  dan  Fisiologi  Stek
Beberapa fase dalam proses pembentukan akar adventif antara lain sebagai berikut:
Ø  Diferensiasi seluler yang diikuti oleh inisiasi yaitu permulaan pertumbuhan dari sekelompok sel-sel merismatik, keadaan ini biasanya disebut dengan inisiasi akar.
Ø  Diferensiasi dari kelompok sel-sel tersebut menjadi promodia akar (bakal akar) yang dapat dilihat.
Ø  Pertumbuhan dan pemunculan akar-akar baru yang meliputi pelebaran dari jaringan batang, dan pembentukan hubungan vaskular dengan jaringan penghubung yang menghubungkan batang yang distek dengan jaringan vaskular.
Menurut Winners (1975), akar adventif adalah akar yang muncul kerna adanya perlukaan, dimana pada stek batang berasala dari sekelompok sel yang berbeda-beda untuk setiap jenis tanaman yang kemudian kelompok sel berkembang menjadi sel merismatik.
Pada kebanyakan tanaman, inisiasi akar dan akar adventif terjadi setelah stek dibuat, yang disebut dengan akar yang diinduksi (induced root) atau akar yang muncul karena adanya perlukaan.
Pembentukan akar adventif dibatasi oleh faktor-faktor inherent (faktor bawaan dari tanaman) yang tidak ditranslokasikan didalam jaringan tanaman. Namun, pembentukan akar adventif dapat dikatakan bahwa interaksi antara faktor-faktor yang tidak bergerak (immobile) yang terletak didalam sel yang berupa enzim-enzim tertentu dan nutrien serta faktor-faktor endogen yang mudah ditranslokasikan yang saling berinteraksi untuk menciptakan kondisi yang favorable untuk perakaran.

2.5   Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Stek
A.  Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan stek yaitu: media perakaran, suhu, kelembaban, dan cahaya (Hartman, 1983). Media perakaran berfungsi sebagai pendukung stek selama pembentukan akar, memberi kelembaban pada stek, dan memudahkan penetrasi udara pada pangkal stek. Media perakaran yang baik menurut Hartman (1983) adalah yang dapat memberikan aerasi dan kelembaban yang cukup, berdrainase baik, serta bebas dari patogen yang dapat merusak stek. Media perakaran stek yang biasa dipergunakan adalah tanah, pasir, campuran gambut dan pasir, perlite dan Vermikulit. Suhu perakaran optimal untuk perakaran stek berkisar antara 21oC sampai 27oC pada pagi dan siang hari dan 15oC pada malam hari. Suhu yang terlampau tinggi dapat mendorong perkembangan tunas melampaui perkembangan perakaran dan meningkatkan laju transpirasi (Hartman, 1983).
B.  Faktor Dari Dalam Tanaman
Kondisi fisiologis tanamn mempengaruhi penyetekan adalah umur bahan stek, jenis tanaman, adanya tunas dan daun muda pada stek, persediaan bahan makanan, dan zat pengatur tumbuh (Kramer dan Kozlowzky, 1960)
a. Umur Bahan Stek
Menurut Hartman (1983), stek yang berasal dari tanaman muda akan lebih mudah berakar dari pada yang berasal dari tanaman tua, hal ini disebabkan apabila umur tanaman semakin tua maka terjadi peningkatan produksi zat-zat penghambat perakaran dan penurunan senyawa fenolik yang berperan sebagai auksin kofaktor yang mendukung inisiasi akar pada stek.
b. Jenis Tanaman
Tidak semua jenis tanaman dapat dibiakkan dengan stek. Keberhasilan dengan cara stek bergantung pada kesanggupan jenis tersebut untuk berakar. Ada jenis yang mudah berakar dan ada yang sulit. Kandungan lignin yang tinggi dan kehadiran cincin sklerenkim yang kontinyu merupakan penghambat anatomi pada jenis-jenis sulit berakar, dengan cara menghalangi tempat munculnya adventif (Kramer, 1960).
c. Adanya Tunas dan Daun Pada Stek
Adanya tunas dan daun pada stek berperan penting bagi perakaran. Bila seluruh tunas dihilangkan maka pembentukan akar tidak terjadi sebab tunas berfungsi sebagai auksin. Selain itu, tunas menghasilkan suatu zat berupa auksin yang berperan dalam mendorong pembentukan akar yang dinamakan Rhizokalin (Boulenne dan Went, 1933 dalam Hartman, 1983).
d. Persediaan Bahan Makanan
Menurut Haber (1957) persediaan bahan makanan sering dinyatakan dengan perbandingan antara persediaan karbohidrat dan nitrogen (C/N ratio). Ratio C/N yang tinggi sangat diperlukan untuk pembentukan akar stek yang diambil dari tanaman dengan C/N ratio yang tinggi akan berakar lebih cepat dan banyak dari pada tanaman dengan C/N ratio rendah.
e. Zat pengatur Tumbuh
Menurut Heddy (1991) hormon berasal dari bahasa Yunani yang artinya menggiatkan. Hormon pada tanaman menurut batasan adalah zat yang hanya dihasilkan oleh tanaman itu sendiri yang disebut fitohormon dan zat kimia sintetik yang dibuat oleh ahli kimia (Kusumo, 1984). Hormon tanaman (fitohormon) adalah “regulators” yang dihasilkan oleh tanaman sendiri dan pada kadar rendah mengatur proses fisiologis tanaman.
Hormon biasanya mengalir di dalam tanaman dari tempat dihasilkannya ke tempat keaktifannya (Kusumo, 1984). Salah satu hormon tumbuh yang tidak lepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah auksin. Thimann (1973) dalam Kusumo (1984) berpendapat bahwa hubungan antara pertumbuhan dan kadar auksin adalah sama pada akar, batang dan tunas yaitu auksin merangsang pertumbuhan pada kadar rendah, sebaliknya menghambat pertumbuhan pada kadar tinggi. Kadar optimum hormon untuk pertumbuhan akar jauh lebih rendah kira-kira 1.100.000 dari kadar optimum untuk pertumbuhan
batang (Kusumo, 1984).
Zat pengatur tumbuh Rootone-F termasuk dalam kelompok auksin. Secara teknis Rootone-F sangat aktif mempercepat dan memperbanyak keluarnya akar sehingga penyerapan air dan unsur hara tanaman akan banyak dan dapat mengimbangi penguapan air pada bagian tanaman yang berada di atas tanah dan secara ekonomis penggunaan Rootone-F dapat menghemat tenaga, waktu, dan biaya (Soemarno, 1987 dalam Puttileihalat, 2001).
Cara pemberian hormon pada stek batang dapat dilakukan dengan cara pemberian dengan perendaman, pencelupan dan tepung. Untuk metode perendaman, konsentrasi zat pengatur tumbuh bervariasi antara 20 ppm sampai 200 ppm tergantung kemampuan jenis tersebut berakar (Hartman, 1983). Dalam mengaplikasikan hormon perlu diperhatikan ketepatan dosis, karena jikalau dosis terlampau tinggi bukannya memacu pertumbuhan tanaman tetapi malah menghambat pertumbuhan tanaman dan menyebabkan keracunan pada seluruh jaringan tanaman (Anonim, 1987).


            BAB III
METODELOGI

3. 1 Waktu  dan Tempat
Pelaksanaan praktikum sampai Ujian Akhir Semester mata kuliah Tanaman Vegetatif, dikebun praktikum Agroteknologi Fakultas Agribisnis dan Teknologi Pangan Universitas Djuanda Bogor.
3.2  Bahan  dan Alat
A.    Bahan : Arang sekam, tanah, pasir, bahan stek tanaman ( Bugenvill, sansivera, buah naga, puring) dan zat perangsang tumbuh yang digunakan Rhotoone.
B.     Alat   : Gunting setek, cangkul, pisau, polibag.
3.3. Cara Kerja 
a)   Stek batang Bugenvill
Mempersiapkan batang tanaman bugenvil yang akan distek dan media tanam yang diisi dengan campuran tanah dan sekam sampai penuh sebannyak 20 polibag. Tanaman dipotong sepanjang kurang lebih 20 cm, sebanyak 40 stekan. 20 stek tanaman diberi perlakuan dengan larutan Rhotoon dengan cara dicelupkan bagian ujung stek. Kemudian stek ditanam ke media tanaman dengan membuat lubang tanam terlebih dahulu. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan seperti penyiramandan kemudian dilihat pertumbuhan tanaman itu.
b)   Stek daun Sansivera
Mempersiapkan daun sansivera yang akan distek dan media tanam sebanyak 20 polibag. Daun sansivera dibuat stek sebanyak 40 stekan dan panjang 10 cm dan potongan menyerong. Tahap selanjutnya sama dengan seperti proses pada stek bugenfil.
c)     Stek Puring
Batang tanaman puring dibuat stek dengan panjang 20 cm setiap steknya. Stek puring ini tanpa perlakuan zat perangsang tumbuh (Rhotoon).


d)   Stek batang Buah Naga.  
Mempersiapkan batang buah naga yang akan distek dan media tanam sebanyak 20 polibag. Batang dipotong dengan panjang 15 cm dengan potongan menyerong. Potongan stek yang akan diberi perlakuan selanjutnya dicelupkan kedalam larutan Rhotoon dan ditanam dan kemudian ditanam.
3.4 Diagram Alir Proses Kerja

Penyiapan bahan Stek
Penyiapan media tanam
Pemotongan bahan Stek
Pemberian ZPT
Penanaman
Pengamatan
 














BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Stek Tanaman Bugenvil

               Hasil pengamatan bahwa stek tanaman bugenvil yang diberi perlakuan (ZPT) dan yang tidak diberi perlakuan tidak ada yang tumbuh dari 40 stekan.  Pada waktu itu stek mengalami kekeringan akibat kekeringan, stek bugenvil yang tadinya sudah mengeluarkan tunas dan kemudian mati. Stek bugenvil yang tidak tumbuh akibat bahan stek yang masih muda menyebabkan bahah busuk.
B.  Stek Tanaman Sansivera.

          Stek daun sansivera yang diberikan perlakuan dengan rothoon lebih cepat berakar dibandingkan dengan yang tidak diberikan perlakuan. Stek yang tidak diberikan perlakuan lambat berakar dan mengeluarkan tunas, meskipun stek tampak hijau. Stek yang tidak tumbuh diakibatkan terjadi pembusukan.
1.      Stek Daun
Tanaman sansivera yang di stek bagian daun atau stek daun mengeluarkan tunas baru  yang  berwarna hijau berbeda dengan induknya yang berwarna kuning.
2.      Stek bonggol
Tanaman sansivera yang distek bagian bonggol lebih cepat tumbuh akar dan cepat membentuk tunas daun baru yang tidak berbeda dengan induknya tetap berwarna hijau.
C.    Stek Tanaman Puring
            Bahwa dari hasil pengamatan stek puring tanpa diberi Zat Perangsang Tumbuh (ZPT), Tanaman puring mudah berakar meskipun tidak diberi perlakuan. Stek puring yang ditanam semuanya tumbuh.

D.    Stek Buah Naga
            Pada stek tanaman buah naga lebih cepat tumbuh atau berakar meskipun tidak diberi perlakuan dengan Rothoon.

BAB V
KESIMPULAN
1.      Bahwa dari hasil pengamatan stek yang diberi perlakuan dengan larutan Rhotoon  menunjukan pembentukan akar lebih cepat dibandingkan tanaman yang tidak diberi larutan Rhotoon.
2.      Stek bonggol sansivera lebih cepat membentuk tunas baru dibandingkan stek daun.
3.      Stek daun sansivera membentuk daun baru yang berbeda dengan induknya, yang tadinya induknya berwarna kuning menghasilkan tunas daun menjadi hijau.
4.      Stek bugenvill yang tidak tumbuh karena dipengaruhi oleh penyiraman yang kurang dan bahan stek masih muda.
  
DAFTAR FUSTAKA

Anonim, 1987. Pedoman Penggunaan Hormon Tumbuh Akar Pada PembibitanBeberapa Tanaman Kehutanan Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan.

Heddy, 1991. Hormon Tumbuh. Penerbit CV. Rajawali. Jakarta.

Hartman dan Kester, 1983. Plant Propagation Principle and Practise. Prentice Hall..Internasional Inc. Engelwoods Clifs. New Jersy. 253-341.

Kusumo, 1984. Zat Pengatur Tumbuh. CV Yasaguna. Jakarta.

Kramer dan Kozlosky, 1960. Phisiology of Tress. Mc Graw Hill Book Co. New  York
Wudianto, 1998. Membuat Stek. Cangkok dan Okulasi. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Yasman dan Smits, 1998. Metode Pembuatan Stek Dipterocarpaseae. Badan Penelitian Dan Penembangan Kehutanan. Balai Penelitian Kehutanan. Samarinda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar